Menjelang Ramadan, masyarakat Sunda mengenal satu tradisi yang sarat makna: munggahan. Berasal dari kata munggah yang berarti “naik”, tradisi ini menandai perpindahan dari bulan Sya’ban menuju bulan suci Ramadan. Namun lebih dari sekadar peralihan waktu, munggahan adalah momentum peralihan batin, ruang refleksi sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Di Kecamatan Jati Nangor, munggahan bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga bagian dari identitas kultural masyarakat. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi antara budaya Nusantara dan Islam. Ia tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan tumbuh seiring masuknya Islam ke Tataran Sunda. Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan membingkainya dengan nilai-nilai tauhid, doa, dan kebersamaan.
Sejarahnya di Ujung Berung memiliki jejak yang menarik. Tradisi ini diperkenalkan oleh masyarakat pendatang dari Jawa yang membawa kebiasaan munggahan sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur. Dari situ, munggahan diterima, dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi. Ia menjadi ruang silaturahmi, penguatan ikatan sosial, sekaligus pengingat akan akar sejarah komunitas.
Seiring perkembangan zaman, munggahan di Ujung Berung tidak berhenti pada bentuk awalnya. Tradisi ini mengalami dinamika dan penyesuaian. Salah satu perubahan signifikan adalah perpaduannya dengan kesenian benjang gulat, seni tradisional khas Ujung Berung yang mencerminkan ketangkasan, sportivitas, dan solidaritas.